Beberapa bulan yang lalu, saya membaca artikel di sebuah surat kabar Jakarta bahwa gedung bersejarah peninggalan orang Tionghoa bernama Sin Ming Hui atau dikenal dengan Candra Naya, telah dibuka kembali.

Berdasarkan artikel tersebut, dengan  rasa yakin saya bersama dua orang teman melenggang menuju Candra Naya untuk melihat kondisi bangunan sekarang ini. Informasi dari beberapa teman, gedung megah dibangun abad ke-19 (tahun 1807) ini, kondisi bangunannya menyedihkan.

Tiga buah rumah yang dibangun tiga orang bersaudara dari sub etnik Hokkien, dua bangunannya telah dihancurkan pada 1990-an. Sayangnya informasi ini tidak dapat saya cek karena saya tidak dapat masuk ke rumah tersebut.

Bangunan Candra Naya sudah di pagari oleh pagar seng yang tinggi dan diperlukan ijin masuk untuk melihatnya. Melihat pada papan proyek yang di pagari, tempat tersebut merupakan milik Super Blok Green Central City (GCC). Proyek apa, saya sendiri tidak tahu karena tidak mendapatkan informasi apapun dari orang yang menjaga di tempat itu.

Kejadian itu sudah setahun yang lalu. Sekarang, saya kembali ke tempat dimana Candra Naya berdiri, dan saya sudah berada di dalamnya untuk melihat keaslian dan arsitektur bangunan. Pertanyaan-pertanyaan saya mengenai proyek yang dibangun di sekeliling Candra Naya terjawab sudah.

Saat ini, bangunan Candra Naya yang dahulunya terdiri dari tiga bangunan yang besar dan luas, hanya tinggal satu bangunan yang tersisa. Bangunan tersisa tersebut sekarang di miliki oleh Green Central City, sebuah superblock hunian milik Modern Land, yang rencananya akan menjadikan lokasi bangunan tersebut menjadi Oriental Walk.

Candra Naya merupakan peninggalan Khouw Kim An, mayor Tionghoa pada 1910-1918 dan 1927-1942. Khouw Kim An merupakan mayor terakhir masyarakat Cina di Batavia, yang meninggal tahun 1942 ketika dipenjara pada masa pendudukan Jepang. Mayor Khouw Kim An juga anggota volksraad (parlemen bentukan Belanda) dari 1921 - 1931

Pada masa kolonial, Belanda menunjuk seorang kapiten (kapten) untuk memimpin tiap kelompok etnis. Khusus untuk masyarakat Cina, karena jumlah mereka yang besar dan perekonomiannya yang kuat, etnis ini dipimpin seorang mayor, dibantu kapiten dan letnan.

Dan bangunan Candra Naya ini merupakan pusat pertemuan dan perdagangan orang Tionghoa, yang mengurus kepentingan orang Tionghoa pada jaman itu sehingga dikenal dengan nama “Mayor House”.

Ketika Jepang menduduki Batavia, semua gelar tersebut dihapuskan. Kemudian setelah Perang Dunia ke-2, bangunan digunakan sebagai tempat perkumpulan sosial bernama Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru). Kegiatan perkumpulan ini sangat banyak, terutama dalam bidang sosial, pendidikan, perkumpulan olahraga, poliklinik sampai dengan klub fotografi.

Pada 1957 ketika nama-nama berbau asing di Indonesia-kan, Sin Ming Hui namanya diganti jadi Candra Naya. Lalu pada 1962, perkumpulan Sin Ming Hui berubah namanya menjadi “Perkoempoelan Sosial Tjandra Naja” (Social Union Tjandra Naja). Dari 1960-an hingga 1970-an Candra Naya menjadi tempat penyelenggaraan pesta-pesta pernikahan yang bonafide.

Hingga akhir 1992 Candra Naya masih digunakan untuk kegiatan sekolah. Namun, sejak 1993 mulai datang kemelut ketika keturunan Khouw, pemilik Candra Naya, meminta kembali gedung tersebut, kemelut berakhir dengan dijualnya bangunan ini oleh keluarga sang Mayor kepada developer Green Central City.

Candra Naya merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang, berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta tahun 1972 dan SK Mendikbud tahun 1988, yang di pertegas dalam Undang-undang Benda Cagar Budaya Nasional (UUBCB) tahun 1992.

Alasan pemerintah memasukkan Candra Naya dimasukkan sebagai benda cagar budaya dikarenakan “Mayor House” ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan satu-satunya rumah tinggal milik Mayor Cina yang masih tersisa di Jakarta. (Diyah Wara)

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.
ruby red casino no deposit casino con deposito minimo 1 euro cuba club casino no deposit no deposit christmas casino coupons