Ceng Beng (Ching Ming)

Aspertina - Pada 4 April 2012 ini, etnis Tionghoa yang masih memegang tradisi leluhurnya, akan merayakan hari raya Ceng Beng

 Hari raya Ceng Beng (artinya terang cerah gemilang), yaitu hari suci untuk mengunjungi atau berziarah dan bersembahyang di makam orang tua atau leluhur yang sudah meninggal (Thiong Ting).

 Ceng Beng sering disebut juga “Tahun baru orang mati”. Pada waktu Ceng Beng, biasanya sanak saudara, keluarga yang sudah meninggal akan melakukan sembahyang di depan meja abu atau di makam leluhur atau orangtua.

Sebelum berziarah dan bersembahyang di makam tersebut,  biasanya makam dibersihkan terlebih dahulu dan diberikan kertas sembahyang berwarna kuning, seperti yang terlihat beberapa hari sebelum perayaan ini di sebuah pemakaman Tionghoa di Tangerang bernama Tanah Gocap.

Sesaji yang diletakkan di atas meja abu biasanya berupa makanan seperti daging babi, daging bebek, dll dan minuman. Meja sesaji dialasi oleh Tokwi (semacam taplak bergambar sulaman yang indah), yang biasanya bergambar delapan dewa (Pa xian) dalam sejarah Tiongkok. 

Pada sembahyang Ceng Beng terdapat sembahyang bersama yang diselenggarakan oleh Bio untuk menyembahyangi makam yang tidak dikunjungi sanak saudaranya atau yang tidak dikenal. Seperti yang dilakukan oleh sebuah Yayasan Keagamaan dan Sosial yang memiliki sebuah klenteng kuno di kota Tangerang bernama Boen Tek Bio.

Klenteng ini sudah berdiri sejak sebelum negara Indonesia terbentuk dan sampai sekarang bangunannya masih terawat dan terjaga keasliannya, sebagai bukti bahwa orang Cina yang datang ke tanah Jawa inilah yang mengembangkan daerah Tangerang.

Masyarakat keturunan Cina (sekarang lebih sering disebut sebagai keturunan Tionghoa), disebut sebagai Cina Benteng. Asal kata Benteng di katakan oleh berbagai sumber diambil dari nama Benteng Makassar yang mengelilingi pemukiman masyarakat Cina pada jaman dahulu.

Di perayaan Ceng Beng inilah waktu untuk berkumpul dengan sanak saudara selain pada perayaan Imlek. Dengan begitu, persaudaraan pun semakin terjalin, sanak keluarga yang tinggalnya saling berjauhan dapat lebih mengenal dan akrab.

Ceng Beng pada dasaranya merupakan satu perayaan budaya etnis Tionghoa. Sayangnya, saat ini sudah jarang perayaan ini dilakukan karena di anggap sebagai bagian dari perayaan satu agama (Khong Hu Cu).

Karena itu, melalui perayaan Ceng Beng kali ini, marilah kita semakin tingkatkan persaudaraan etnis Tionghoa antar agama, dengan memahami secara bersama-sama makna perayaan Ceng Beng sebagai wadah untuk menyadari arti persaudaraan dan persahabatan sesama etnis Tionghoa terutama dalam membangun negara Indonesia. (Diyah Wara R)

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.
no deposit casino codes planet 7 casino deposit download line no no casino online real money no deposit casino deposite free keep no online win all casino no deposit required need