Njoo Cheong Sheng awalnya adalah seorang penulis skenario, novel, cerita pendek, dan puisi dalam bahasa Melayu-China, kelahiran Bangkalan, Madura pada 6 Oktober 1902.  Beliau mulai terkenal setelah karya-karyanya digunakan pada sandiwara Miss Riboet sekitar tahun 30-an. Ia termasuk seorang penulis yang paling produktif dalam masa sebelum PD II.

Nama lainnya adalah Munzil Anwar namun ia kerap juga menggunakan nama samaran seperti Monsieur Amor, N.C.S atau N.Ch.S untuk beberapa karyanya. Kemudian setelah ia bersama istrinya (Fifi Young) pindah ke Rombongan Opera Dardanella, karyanya juga mulai digunakan pada pementasan-pementasan Opera Dardanella pada masa itu.

Njoo Cheong Seng mulai menulis novel pada tahun 1919, novel pertamanya berjudul Cerita Penghidupan Manusia. Ia juga kerap menulis di beberapa surat kabar Cina peranakan. Pada tahun 1923, Njoo menjadi kepala redaksi majalah Interocean di Surabaya. Bersama Ong Ping Lok dan Liem Kin Hoo, ia menerbitkan serial novel bulanan bernama Penghidupan (1925). Sebagai novelis, Njoo telah menulis sekitar kurang lebih 200 judul, selain itu, ia juga menulis ratusan cerpen dan puisi (pantun dan syair).

Sebagian besar novelnya mengambil lokasi cerita yang berhubungan dengan berbagai daerah di Indonesia, karena ia kerap kali berkeliling Indonesia dan negara tetangga dalam lawatan rombongan sandiwaranya. Namun kebanyakan novelnya hanya mementingkan segi hiburannya belaka, yakni masalah percintaan, tanpa mendalami problematik kedaerahannya.

Njoo juga menulis novel detektif, dengan tokohnya yang terkenal Gagak Lodra. Karyanya yang lain antara lain adalah Swami yang Buta (1923), Wali Yang Curang (1923), Penggoda (1925), Buat Apa Ada Dunia (1929), Bantimurung (1932), Marisang Manukwari (1935), dan Gagak Lodra Series (1938).

Pada saat film mulai marak di Indonesia, Njoo mulai bekerja sama dengan Fred Young, yang mengajaknya pertama kali ke dunia perfilman. Karena pengalaman Njoo yang telah lama dalam dunia panggung sandiwara, terutama dalam hal menulis skenario, akhirnya Njoo Cheong Seng muncul menjadi sosok yang dapat diandalkan oleh Fred Young. Kebetulan juga keduanya mempunyai impian yang sama dalam memproduksi film, Fred Young dan Njoo Cheong Seng sama-sama menyukai film-film yang berbau kolosal.

Dengan Majesti Pictures, mereka menghasilkan dua film, yakni Djantoeng Hati dan Airmata Iboe. Kedua film ini adalah film drama yang penuh dengan airmata serta parade hiburan dan nyanyian. Bintangnya serba gemerlap, terdiri dari kaum berpendidikan tinggi, dengan harapan film yang dibuat juga akan ditonton oleh golongan atas dan kaum berpendidikan. Pada periode tahun 1940-an, tumbuh keinginan agar film juga memiliki segmen yang lebih luas dan bisa diterima oleh kalangan baik-baik dan terpelajar. Hal ini merupakan upaya untuk menyongsong kemajuan zaman, yang dituntut juga oleh Pergerakan Nasional saat itu. 

Memasuki tahun 1941, masyarakat perfilman sudah merasa berat menghadapi tuntutan publik terpelajar dan pers perjuangan. Apa yang mereka inginkan dianggap tidak proporsional. Sebaliknya, kalangan publik terpelajar terus saja meningkatkan harapan mereka, sesuai dengan meningkatnya tuntutan menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang merdeka.

Dalam tulisannya dengan nama samaran M. D’Amor, Njoo Cheong Seng mengeluhkan sikap pers dan publik yang terlalu berharap pada film nasional ketika itu. Menurut dia, orang film sulit sekali untuk memenuhi keinginan kalangan bawah dan atas secara bersamaan, yang seleranya sangat jauh berbeda. Dalam perjalanan kariernya di perfilman, Njoo Cheong Seng telah menyutradarai tidak kurang dari 8 (delapan) judul film. Beliau meninggal di usia 60 tahun, pada 1962.

Filmografi :
Zoebaida (1940)
Keris Mataram (1940)
Air Mata Iboe (1941)
Djantoeng hati (1941)
Pantjawarna (1941)
Djembatan Merah (1950)
Mirah Delima (1951)
Habis Hudjan (1955)
Kebon Binatang 91955)
Masuk Kampung Keluar Kampung (1955)

Novel :

Cerita Penghidupan Manusia.
Penghidupan - (1925).
Swami Yang Buta - (1923).
Wali YangCurang - (1923).
Penggoda - (1925).
Buat Apa Ada Dunia - (1929}.
Bantimurung - (1932).
Marisang Manukwari - (1935).
Gagak Lodra series - (1938).

Naskah Sandiwara :
Opera Miss Riboet.
Opera Dardanella.
Opera Bintang Surabaya
Opera Pancawarna

(Disarikan dari berbagai sumber)

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.