Artikel Lainnya

Geliat Toko Obat Tionghoa di Indonesia

Sep 25, 2018

Jika teman-teman melalui Jalan Pancoran Glodok, Jakarta Barat, maka kalian akan menemukan sederet toko obat-obatan Tiongkok. Toko obat yang ada di sana dan toko obat Tiongkok lainnya yang ada di Indonesia ternyata sudah berdiri sejak zaman masa penjajahan Belanda. Pengobatan tradisional Tionghoa yang sudah ratusan tahun ada di Indonesia ini melewati masa demi masa dengan berbagai haling rintang, melalui perjalanan yang sangat panjang.

Pengobobatan tradisional Tiongkok datang bersamaan dengan proses migrasi masyarakat Tiongkok ke Indonesia. Untuk itu dimana ada pemukiman masyarakat Tionghoa selalu ada toko obat tradisional Tionghoa beserta pengobatannya. Diantara imigran yang datang ke Indonesia ada di antara mereka yang berprofesi sebagai tabib atau sinse yang ahli dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Biasanya sinse memiliki toko obat sendiri sekaligus sebagai tempat praktik mereka. Mereka umumnya memiliki pengetahuan pengobatan dan obat-obatan  secara turun temurun atau memperolehnya dengan melajar dari sinse lain.

Perjalanan toko obat tradisional Tionghoa di Indonesia pun berliku, setiap berbeda pemerintahan berbeda pula kebijakan untuk mereka. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kongsi Dagang Hidia Timur (VOC) mulai memonopoli perdagangan di Nusantara, pengobatan Tionghoa mulai berkembang. Namun pemilik toko obat diwajibkan untuk meminta izin untuk berdagang, sedangkan sinse bisa bebas berpraktik tanpa surat izin.

Pada masa pendudukan Jepang, toko obat tradisional Tionghoa dapat terus berjalan dan sinse masih diperbolehkan praktik, sayangnya sejak hubungan dengan luar negeri hamper terputus sumber obat-obatan tidak mencukupi, sulit bagi mereka untuk beroperasi.

Setelah Indonesia merdeka, barulah toko obat tradisional Tionghoa mulai beroperasi kembali. Di bawah pemerintahan Soekarno, pengawasan terhadap pengobatan dan obat-obatan Tionghoa umumnya sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Perbedaannya, dalam izin usaha toko obat Tionghoa tercantum catatan tidak boleh menjual obat-obatan terlarang. Sedangkan terhadap obat-obatan alami tidak ada pembatasan.

Pada tahun 1960, hubungan diplomatik Tiongkok dan Indonesia sangat baik. Presiden Soekarno menerima pengobatan penyakit batu empedunya ketika berkunjung ke Beijing. Ketika fungsi organ empedu Soekarno semakin lemah pada 1962, Tiongkok secara khusus mengirim enam dokter ahli pengobatan Tionghoa dan Barat ke Jakarta untuk pengobatan penyakit Soekarno. Berita pengobatan tersebut membuat citra pengobatan akupuntur di Indonesia meningkat.

Masuk ke masa orde baru, tepatnya di tahun 1970 pemerintah mulai mengeluarkan peraturan yang mewajibkan toko obat Tionghoa menggaji seorang apoteker guna mengawasi penjualan obat dan sinse harus memiliki izin praktik dari Dinas Kesehatan Provinsi.

Pada tahun 1975, kementrian Kesehatan Indonesia mengumumkan undang-undang baru yang secara ketat mengawasi impor obat-obatan di Indonesia. Setiap impor jenis obat harus mendapat nomor pendaftaran dari badan pengawas obat-obatan Departemen Kesehatan baru boleh dijual. Namun, untuk obat-obatan dari Tiongkok dilarang oleh undang-undang. Toko obat Tionghoa harus menghabiskan stock obat-obatan mereka sebelum 31 Desember 1977.

Pengakuan pemerintah terhadap pengobatan Tionghoa akhirnya datang juga. Pada akhir 1974, kepala Dinas Kesehatan Jakarta Herman Susilo, menyarankan pembentukan organisasi sinse di Jakarta. Perkumpulan ini diberi nama Ikatan Naturopatis Indonesia (IKN), tujuannya untuk memudahkan para sinse dalam membuka praktik di Jakarta. Pemerintah menyatukan antara Pekumpulan Jamu Indonesia, Apotik Seluruh Indonesia, dan lainnya menjadi Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia.

Para pemilik toko obat Tionghoa semakin bisa bernafas lega setelah dikeluarkannya UU Nio 23/1992 tentang kesehatan. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa pengobatan Tionghoa termasuk dalam pengobatan yang diakui Departemen Kesehatan. (Aspertina/TR)

Sumber literasi: Tionghoa dalam Keindonesiaan Jilid II

Sumber gambar: safitrisudarno.com

 

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.