Artikel Lainnya

Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882 – 1959 (Tio Tek Hong)

Aug 19, 2011

“Sebelum Tiong Hoa Bin Kok berdiri, pengurus THHK Batavia telah bertanya dengan telegram pada pemerintah Tjeng Tiauw di Peking: “Is cutting queues officially allowed or not?” Pemerintah Peking memberi jawaban dengan telegram juga:”Cutting queues is not officially allowed but not prohibited.”

Queues yang di dalam dimaksud tersebut yaitu Thaucang (rambut yang dikepang dengan kuncir sutera dan dilepaskan tergantung di belakang) dalam bahasa Inggris. Thaucang merupakan salah satu identitas fisik untuk menunjuk orang Tionghoa pada masa sebelum berdiri Republik Indonesia.

Ketika pemerintah Peking sudah memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai thaucang, tidak serta merta orang Tionghoa ‘membuang’ thaucangnya, karena selama 3 abad sudah menggunakan thaucang. Barulah setelah Tiong Hoa Bin Kok berdiri (1911), barulah thaucang tidak dipakai secara umum.

Informasi mengenai kehidupan orang Tionghoa di Nusantara pada masa lalu, dapat di baca pada beberapa buku biografi ataupun sejarah orang Tionghoa. Dan salah satu buku yang berdasarkan dari pengalaman pribadi adalah buku yang di tulis oleh Tio Tek Hong ini.

Didalam buku ini dikisahkan tentang kehidupan babah Surabaya dan Betawi yang berbeda dalam cara berpakaian, tradisi menerima tamu dan berusaha, yang menurut buku ini babah Surabaya lebih pandai dalam menerima tamu dan berusaha.

Sedangkan dalam berpakaian, ketika para babah Betawi masih memakai celana komperang (celana yang berpotongan sangat lebar/baggy) dan baju tuikhim (baju pendek laki-laki potongan Tionghoa, dengan bukaan di tengah dan kancing terbuat dari bahan yang sama), babah Surabaya sudah memakai jas terbuka dan dan dasi, serta pandai berbahasa Tionghoa dialek Hokkian.
 
Dan para njonja Surabaya sudah memakai baju pèhki (baju pendek potongan Tionghoa umumnya berwarna putih dengan bukaan di samping kanan pemakai) dan kain sarung ketika di rumah serta kun (semacam rok lipit berbentuk apron yang dililitkan dengan tali di pinggang, di luar dalaman celana panjang, dengan panel bersulam di bagian tengah depan dan belakang serta lipit di kiri kanan) ketika bepergian, sementara njonja Betawi masih mengenakan baju kurung atau baju panjang dan kain sarung.

Buku ini juga menceritakan budaya Tionghoa pada waktu itu. Bagaimana perayaan sin chia (tahun baru Tionghoa) dan cap gou mèh (malam ke-15 setelah tahun baru) pada masa lalu dimeriahkan dengan wayang cokek (penyanyi dan penari perempuan yang diiringi gambang kromong), liong (naga-nagaan), cnggé (semacam panggung berhias yang digotong beberapa orang, diatasnya duduk atau berdiri anak-anak kecil yang didandani menurut tokoh-tokoh kisah klasik populer Tiongkok) dan lain-lain. 

Lahir di Pasar Baru, Jakarta, Tio Tek Hong dulu bertempat tinggal di lokasi yang sekarang menjadi Tropik Restoran. Beliau bersama teman-temannya Tan Som Yam, Yo Kian Tong dan Lim Liang Boe mendirikan Tiong Hoa Hak Tong Pasar Baru (Gang Tepekong) tahun 1907 yang kemudian menjadi Sin Hua School. Kenangan dan pengalaman beliau selama tinggal di Pasar Baru menjadi sebagian besar cerita dalam buku ini.

Buku ini dapat menjadi referensi sejarah bagi orang-orang yang ingin lebih mengenal daerah Pasar Baru dan sejarah Jakarta tentunya, karena di buku ini juga tidak ketinggalan menceritakan kehidupan masyarakat Jakarta pada masa itu, dengan masalah-masalah yang tidak berbeda dengan kehidupan masyarakat Jakarta sekarang seperti masalah air bersih dan banjir. 

(Diyah Wara)



Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.